Selalu ada cerita di setiap perjalanan saya dalam melayani tamu. Seperti hari itu, Kamis 12 Mei 2016. Saya kedatangan tamu dari daerah Riau, Sumatera. Tamu spesial saya pikir, mengingat hampir seluruh waktu besar saya juga di daerah Riau. Tentu saja tamu ini bisa jadi memiliki ikatan emosional buat saya pribadi yang sama-sama berasal dari daerah Riau.

Perjalanan saya dimulai ketika memperoleh konfirmasi dari sang tamu untuk dijemput di Bandara Husein Sastranegara pada pukul lebih kurang 11.30 wib. Saya mempersiapkan waktu sebaik mungkin sebelum melakukan penjemputan. Sayangnya hari itu sebeum saya tiba di bandara, jalanan hampir bisa dikatakan padat dan macet dimana-mana. Cukup panik buat saya ketika mencoba menelepon ke nomor tamu saya, nomor yang dituju sudah aktif. “Pasti sudah landing!”

Saya berusaha untuk tetap tenang mengingat perjalanan ke bandara bisa dikatakan hampir dekat, namun, kemacetan membuat pergerakan mobil saya saat itu stuck sekeluarnya dari tol pasir koja di persimpangan jalan Soekarno-Hatta. Namun, rasa tenang saya sedikit buyar ketika telepon saya berdering dari tamu saya. Saya sambut telepon tersebut dan berusaha menjelaskan posisi kendaraan yang sudah hampir mendekati bandara. Saya sampaikan permintaan maaf atas keterlambatan ini. Ini di luar dugaan saya karena terkadang Bandung pun bisa macet di luar ekpektasi kita.

Setiap ada progress perjalanan mendekati bandara saya sampaikan melalui telepon dan sms kepada tamu saya agar tamu saya un merasa tenang dan dipastikan akan dijemput segera. Dan 15 menit kemudian saya tiba di bandara, yang berarti lebih kurang sama dengan 15 menit saya telat dari jadwal seharusnya untuk menjemput tamu.

Namun, hal yang patut saya syukuri adalah tamu saya pun seorang yang sabar dan asyik. Dia pun tidak merasa keberatan karena merasa saya juga memberikan respon dan konfirmasi yang baik mengenai keterlambatan saya. Alhamdulillah, semoga hari ini bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi saya dan tamu saya.

Tujuan pertama kami setelah keluar dari bandara adalah mampir ke salah satu factory outlet di Jl. Juanda, Dago. Saya coba merekomendasikan Blossom Factory Outlet, mengingat tempat ini juga cukup ramai di hari biasa dan tidak di hari akhir pekan saja. Selain itu, Blossom juga lumayan komplit menyediakan aneka pilihan outfit dan alas kaki.

Blossom Factory Outlet

Setelah dari Blossom, kami mampir makan di Cabe Rawit yang memang kebetulan berada tak jauh dari Blossom Factory Outlet. Pilihan tamu saya saat itu adalah sop buntut dan nasi goreng. 

Setelah beristirahat sejenak di Cabe Rawit, kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Lembang. Hanya ingin melihat-lihat suasana alam menuju Dusun Bambu. Tak lama di Lembang, kami pun kembali ke arah Bandung. Tamu saya sendiri yang kebetulan memang belum booking hotel saat itu, meminta saya untuk mengantarkan ke hotel Marbella Suites yang berlokasi di daerah Dago Pakar. 

Marbella Suites Hotel – Dago Pakar

Lebih kurang hampir 2 jam tamu saya beristirahat di hotel, baru sekitar jam 8 malam, kami keluar untuk menikmati Bandung di malam hari. Saat itu, hujan gerimis membasahi kota Bandung dan mengiringi perjalanan kami. Tamu saya minta direkomendasikan untuk makan bebek dengan tempat makan yang bernuansa tenda-tenda kaki lima. Beruntung sekali, perjalanan dari Dago Pakar menyusuri Jalan Juanda, dan pilihan saya adalah Bebek Ali Borme atau yang dikenal dengan nama Bebek Boromeus. 

Tak salah hidangan di Bebek Ali Borme. Sambal yang mantab dan daging bebek yang lembut juga tidak anyir membuat perut merasa terpuaskan. Tak salah juga bila tamu saya sampe nambah. Harga di sini juga relatif murah mengingat makan per orang yang hanya berkisar Rp 25.000 sudah bisa kenyang sekenyang-kenyangnya.

Dan lepas makan malam, tamu saya minta diantarkan ke salah satu night club yang cukup populer di kota Bandung, yakni Shelter yang berlokasi di Jalan Sulanjana. Tau saya juga mengajak saya turun menikmati suasana night club di Shelter. Saya pun tak dapat menolak ajakannya mengingat tamu saya kali ini memang sangat humble dan easy blended dengan siapa saja. Namun, mengingat saya bukan peminum alkohol, saya hanya memilih orange juice sebagai minuman yang mendampingi malam di Shelter 🙂

Oke, mengingat waktu yang semakin larut, tamu saya mengizinkan saya untuk pulang lebih awal dari rencananya dan menolak untuk saya tunggu hingga dia memang sudah ingin pulang dari Shelter. Akan tetapi, tamu saya ingin menghabiskan waktu lebih lama dan tak ingin saya menunggu tanpa kepastian. Aduh, seperti pacar yang digantung saja ceritanya. Hehehe…

Gambar di tengah adalah bukti saya hanya menikmati orange juice 🙂

Saya pun kembali ke rumah malam itu dengan hati yang happy mengingat tamu saya sepertinya merasa sampai ke tujuan utamanya hari itu, yakni menikmati malam di Shelter. Tamu saya minta dijemput kembali pada hari Sabtu untuk diantarkan ke bandara dan meminta saya untuk membelikan oleh-oleh dari Bandung, antara lain kaos Bandung dan aneka keripik&snack.

Kaos Bandung Mahanagari

Advertisements

One thought on “Bandung Night Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s